JANGAN MENGANGGAP HUKUM SEBAGAI PANGLIMA - susnoduadji.com

susnoduadji.com

 

JANGAN MENGANGGAP HUKUM SEBAGAI PANGLIMA

Addthis
Derita dan nestapa kaum papa dan renta sebagai akibat dari dogma yang ditelan mentah-mentah oleh aparat penegak hukum bahwa " hukum adalah Panglima " sehingga apa yang tertulis dalam klausa pasal hukum harus diterapkan secara kaku dan membabi buta. 
Akibat dogma ini aparat penegak hukum tak ubah sebagai prajurit yang melaksanakan perintah, kaku tak ada kebijakan apapun bila perlu tembok ditabrak dan terjun ke dalam jurang, mungkin lebih dari itu aparat penegak hukum hanya berfungsi sebai robot yang menjalankan perintah / program yang perintahnya dilakukan dengan menekan sebuah tombol. Kalau demikian halnya  sungguh tepat judul tulisan harian kompas hari ini, jum'at 6 Desember 2012 di halaman pertama dengan judul " Rasa Keadilan Hampir Mati. Hukum hanya diniai keras untuk Rakyat yang Lemah" Hukum adalah salah satu instrumen duniawi buatan manusia yang tujuanya untuk menegakan kebenaran yang berkeadilan di duniawi  agar manusia adapat menegakan kebenaran dan keadilan ke titik yang terdekat, tentunya bukan kebenaran hakiki dan keadilan hakiki karena kebenaran dan keadilan seperti ini adalah milik Illahi Sang Pencipta Yang Maha Adll.

Hukum ciptaan manusia tak ubahnya komputer juga ciptaan manusia, boleh manusia bangga dng komputer dipuji dan dikagumi, tapi ingat derajat komputer jauh dibawah derajat manusia karena komputer itu ciptaan manusia sudah tentu jauh dari sempurna, jangan sampai manusia diperbudak oleh ciptaanya.

Kebenaran dan keadilan adalah mutlak karena dia berasal dari Sang Holiq Maha Pencipta, tak perlu diperdebatkan karena standar dan difinisinya ada pada kalbu / sanubari / hati nurani setiap insani, makin beriman seseorang, makin dekat kehidupan seseorang yang dilandasi relegi dan keimanan maka suara hatinya dalam menganalisa kebenaran dan ketajaman menjadi semakin peka. Demikian sebaliknya makin jauh dengan kehidupan relius , makin mengejar keduniawan, makin lemah keimanan seseorang maka hati nuraninya makin tidak peka terhadap kebenaran dan keadilan.

Aparat penegak hukum harus kuat imanya, harus dilandasi kehidupan religius agar hati nuraninya peka untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan yang berasal dari Allah Swt.

Hukum ciptaan manusia yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan, kebenaran dan keadilan berasal dari Allah Swt Yang Maha Adil , kebenaran dan keadilan berlaku universal.
Hukum adalah sebagai salah satu instrumen duniawi ciptaan manusia untuk mencapai titik kebenaran dan keadilan yang terdekat.
Oleh karenanya hukum tidak boleh diperalat oleh aparat penegak hukum, penguasa, politisi, dan pemodal untuk mematikan kebenaran dan keadilan. Kalau hal ini terjadi maka ini artinya melawan kodrati melawan kehendak yang Maha Kuasa, Yang Maha Adil.

Apa yang harus dilakukan oleh aparat penegak hukum apabila hukum dinilai bertentangan dengan rasa kebenaran dan keadilan ?
Tiada lain hukum harus dikesaamnpingkan, ambil keputusan sesuai hati nurani yang pasti memihak kepada kebenaran dan keadilan.
Jangan lagi berkata ; hukumnya demikian sehingga harus diputus demikian.
Hei bung ,,,,, itu tidak benar, itu tidak adil, lu bukan komputer yang menjalankan program, lu lebih sempurna dari komputer karena lu diberi hati nurani untuk menegakan kebenaran dan keadilan, jangan lu khinati hati nurani, kalau itu lu lakukan maka lu melawan kehebndak Sang Pencipta.


Mempertahankan keputusan yang tidak benar, tidak adil, tidak sesuai dengan hati nurani  dengan menggunakan dalil hukum pasti akan kalah , tidak diterima oleh masyarakat, karena standar kebenaran dan keadilan masyarakat adalah hati nurani.
 
Insyaalah manakala aparat penegak hukum, penguasa dan pengusaha menegakan kebenaran dan keadilan dengan standar yang sama , yaitu suara hati nurani maka perkara sandal jepit, nenek "mencuri" kakao, pemnantu "mencuri" piring dan lainnya tidak perlu bermuara sampai di pengadilan sehingga energi aparat penegak hukum, penguasa dan pengusaha bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan besar dalam rangka menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan negara dan bangsa.

Kalau ingin menjadi penegaak hukum yang disegani dan putusanya diterima dan dihormati masyarakat luas dan insyaallah mendapat pahala dari Allah Swt, gunakanlah hati nurani.

Penulis :
Susno duadji
You are here: Home Catatan JANGAN MENGANGGAP HUKUM SEBAGAI PANGLIMA