Mengenang Asy Syahid Anjar Saputro” - susnoduadji.com

susnoduadji.com

 

Mengenang Asy Syahid Anjar Saputro”

Addthis

Saudaraku,sahabatku Asy Syahid Iptu Pol. Anjar Saputro…sejak tadi malam hingga tadi, banyak rekan-rekan yang berdoa untuk kau yang kini terbujur kaku. Barusan saja, kau disempurnakan menghadap ke hadirat-Nya, dimasukkan ke liang lahat…Selamat ya, sahabatku Anjar memasuki alam kubur yang damai dalam limpahan maghfirah-Nya…..

Sahabatku Anjar, aku ingat ketika kau masih hidup, dan sempat bersama-sama. Di sela-sela rutinitas jihad kau mengawal sang pejuang Jendral Sholeh Susno Duadji di Bandung, kau sempat bertutur kepadaku,”Aku mau mengikuti Bapak (maksudnya Susno Duadji,pen) kemana saja. Bapak orang sholeh, jadi banyak musuhnya.” Saat di Mabes Polri, kau bertutur lagi hal yang senada. Tapi, aku segera memotong kalimatmu,”Bagaimana kalau Bapak dimasukan ke penjara?” “Kalau boleh, aku akan mendampinginya…”, dengan mimik wajah serius.

Ketika Jendral Sholeh Susno Duadji mulai “disingkirkan” dari belantika jihad di Mabes Polri, aku dan kau dipertemukan-Nya di kampus jihad Al Ma’soem Bandung. Kita ngobrol lagi tentang perjuangan ini, tentang makna jihad fii sabilillaah ini, tentang makna KESETIAAN dan KEWASPADAAN dalam perjuangan ini…dan tentang keluargamu,..dan tentang kerelaan rekanmu—yang antara lain personel Densus 88—bergabung dalam shaff perjuangan memberantas korupsi dan kemaksiatan yang kian merajalela di negeri ini…

“Pak, saya bukan ulama, saya hanya mampu sholat. Tapi, saya mengamati, Bapak (maksudnya Susno Duadji, pen) sedang berjuang menyelamatkan orang lain, dan bahkan penduduk negeri ini agar tidak memperoleh azab dari Allah SWT. Bapak (Susno Duadji, pen) sering bilang kepada saya, perjuangan perlu pengorbanan. Kata Bapak, memberantas korupsi mesti satu paket dengan memberantas kemaksiatan. Orang yang mudah dapat uangnya, mudah pula menghabiskannya yang antara lain untuk kemaksiatan. Tujuan Bapak agar negeri ini menjadi agamis orangnya, dan doa-doa kita diterima oleh Allah SWT. Negeri ini terlalu sering ditimpa bencana, karena menurut Bapak, korupsi dan kemaksiatan dibiarkan,” ujar kau seraya menceritakan masa silamnya sebelum menjadi polisi.

Aku berpikir dan merenung sejenak. Obrolan itu aku bawa ke rumah dan aku carikan referensinya. Oh, Anjar, ternyata itu ”mutiara” penting yang kau ungkapkan yang sangat jarang aku dengar dari rekan-rekanmu sesama polisi. Kau tampaknya benar-benar mencermati dan memetik makna kualitatif dari perjuangan jihad fii sabilllaah bersama Jendral Sholeh Susno Duadji. Ya, inilah referensi dari obrolan kau : Allah SWT berfirman,

“Maka tatkala mereka melupakan apa-apa yang diperingatkan (Allah SWT) kepada mereka, Kami (Allah SWT) selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim (berupa) siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasiq” (Alquran Surat Al A’raf ayat 165).


Rasulullaah SAW bersabda,

“Demi Dzat yang diriku di bawah kekuasaan-Nya, sungguh kalian wajib amar ma’ruf dan nahyi munkar. Jika tidak (berbuat) demikian, pasti Allah SWT akan menurunkan siksaan atasmu, lalu sesudah itu kalian berdoa yang tidak diterima atau tidak diperkenankan Allah SWT” (HR Tirmidzi dari Hudzaifah)


Abi Bakr menyatakan bahwa Rasulullaah SAW bersabda,

“Sesungguhnya ketika masyarakat melihat orang yang zhalim (berbuat kemunkaran), kemudian tidak ada seorang pun dari mereka yang mencegahnya, maka tiada tertutup kemungkinan tiba saatnya Allah SWT menurunkan azab-Nya secara merata kepada mereka” (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Nasaiy dengan sanad yang shahih)

Sahabatku Asy Syahid Anjar….

Aku dengar dari rekan-rekan di Mabes Polri, hari-hari yang kau lalui setelah “dipisahkan”nya dari tokoh pejuang Jendral Sholeh SusnoDuadji,..kau sering merenung kembali tentang makna KESETIAAN dan KEWASPADAAN dalam perjuangan memberantas korupsi dan kemaksiatan. Beberapa jam sebelum meninggalkan Mabes Polri, kau masih berperilaku biasa-biasa dan tidak memberi “tanda-tanda” bahwa kau segera menghadap ke hadirat Ilaahi Rabbi sebagai Syuhada. Kau hidupkan mesin motor, dan masih tersenyum dengan beberapa rekan yang sempat kau temui di halaman parkir.

Sahabatku Asy Syahid Anjar,..sungguh ketika merebak berita kau wafat, semua rekan seolah merasa tak percaya. Mestikah seorang personel Polri yang sholeh, disiplin, dan selalu menjunjung setinggi-tingginya makna KESETIAAN dan KEWASPADAAN segera menghadap ke hadirat-Nya (sementara kau sempat menuturkan ingin terus berjuang menyaksikan kesuksesan perjuangan memerangi kemunkaran : korupsi dan kemaksiatan bersama Jendral Sholeh Susno Duadji)?

Sungguh, aku yakin kau sebenarnya masih “hidup” walaupun sekarang di mata manusia kau telah tiada. Sahabatku Asy Syahid Anjar, aku yakin lho dengan firman Allah SWT,” Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (Al-Baqarah ayat 154).

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam Keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan merekamenjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”.(Ali Imron ayat 169-172)

Sahabatku Asy Syahid Anjar….aku masih ingat penuturanmu bahwa dalam KESETIAAN dan KEWASPADAAN jihad ini tak perlu diwarnai kerisauan dan perasaan kecil hati seandainya hanya masuk golongan minoritas. Karena, menurut kau, sejarah perjuangan melawan penjajahan dulu pun tidak dilakukan oleh banyak pejuang. Tapi, perlawanan yang kecil jumlahnya namun dalam keadaan takwa bisa mengalahkan lawan yang banyak jumlahnya atas izin-Nya. Lagi-lagi, aku akhirnya mengerti maksud kau,”
“Betapa banyak kelompok sedikit mampu mengalahkan kelompok yang besar dan banyak jumlahnya dengan izin Allah”. (Al-Baqarah ayat 249)

Sahabatku Anjar,..tentu kau kini bertanya kenapa aku memberimu sebutan “asy syahid”. Ya, karena kau adalah seorang ayah dan suami yang sholeh yang sedang berjuang di jalan-Nya, bekerja mencari nafkah yang halalan thayyibah. Meski akhirnya kau “dijauhkan” dari medan jihad fii sabilillah memberantas korupsi dan kemaksiatan bersama Jendral Sholeh Susno Duadji, tapi kau tetap komitmen berjuang dengan cara kau. Sungguh, itu masih dalam perjuangan di jalan-Nya. Jadi, ketika kau wafat, maka aku memberikan sebutan “asy syahid” kepada ku. Banyak ulama yang mengutip hadits mengemukakan kepadaku bahwa, “Barangsiapa yang wafat karena agamanya, karena membela keluarganya, maka dia adalah syahid”. Hal senada juga difatwakan oleh Syaikh DR. Abdullah al Faqih, sebagaimana dalam kitabnya yang diterjemahkan oleh Abu Jihan Halfawy El-Gharuthy, Akmal Burhanuddin bin Muhammad Nadjib bin Mamat bin Bashirun.

Sahabatku Anjar, tetesan darah kau di jalan kemarin, sesungguhnya bermakna, karena kau dalam status jihad di jalan-Nya. “Tidak ada sesuatu yang dicintai Allah dari pada dua macam tetesan atau dua macam bekas : tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah; dan adapun bekas itu adalah bekas (berjihad) dijalan Allah dan bekas penunaian kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah” (HR. At Tirmidzi - hadits hasan)
“Orang yang mati syahid itu tidak merasakan (kesakitan) pembunuhan kecuali sebagaiman seorang diantara kalian merasakan (sakitnya) cubitan.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i - hadits hasan)

Sahabatku Anjar, aku sering mengamati tugas jihad rutin kau. Sungguh, kau itu ajudan yang penuh amanah, jujur, teliti, dan tinggi antisipasinya. Aku masih ingat kau bertutur kepadaku ketika mendampingi Jendral Sholeh Susno Duadji bermain golf di Lap. Golf Merapi Yogyakarta, Maret 2010. “Ini handuk Bapak, dan ini kaos gantinya. Ini sepatu buat gantinya,” tutur kau sambil merapikan posisi sepatu. Kenapa mesti rapi? ”Ya, Bapak senang kerapian. Tak hanya dalam berorganisasi, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari harus rapi. Kata Bapak, perjuangan pun harus rapi. Kalau baris, harus teratur,” tutur kau. Ya, memang  “ Sesungguhnya, Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. “ (Ash Shaff: 4)

Suatu saat menjelang buka shaum di bulan Ramadhan 2009—ketika akan bertemu dengan sejumlah petinggi ormas Islam tingkat pusat di rumah makan Jln. Pasirkaliki Bandung–, kau berbisik kepadaku,”Bapak menanyakan, sudah sampai mana nulis naskah bukunya? Karena, serangan dari lawan menunjukkan tanda-tanda makin gencar, dan beberapa pekan lalu ada orang pers yang datang ke rumah minta maaf kepada Bapak sambil terharu. Orang itu berjanji akan menulis buku juga sebagai ’tebusan’ atas kekeliruannya sebelumnya turut mencaci maki Bapak dalam isu Cicak-Buaya.” Pernyataan senada juga dikemukakan Jendral Sholeh Susno Duadji seusai shalat Maghrib,”Cepat selesaikan dan terbitkan bukunya Pak Achmad (berjudul ”Mereka Menuduh Saya”). Penerbit mana yang sudah bersedia,” tutur Susno Duadji.

Aku pun menjawab,”Penerbitnya dari Yogyakarta. Ya, penerbit yang menerbitkan buku heboh Gurita dari Cikeas yaitu Galangpress.” ”Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya, perjuangan masih panjang. Lawan-lawan kita, para koruptor dan kemaksiatan, makin gencar nyerang kita. Kita harus mempersiapkan diri,” ujar Susno Duadji.

Sungguh benar, apa yang dikatakan Susno Duadji,”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berjihad (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al Anfal ayat 60)

Dan berapa banyaknya Nabi yang berjihad bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. ( QS Ali Imron ayat 146 )

Tatkala ada peristiwa penangkapan Jendral Sholeh Susno Duadji di Bandara dan penahanan di Mabes Polri, kau mengungkapkan perasaan sedih. Tapi, aku kurang setuju kala itu. Aku katakan, perjuangan kita bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk Allah SWT. Hanya, sayangnya tidak semua orang bisa mengerti dan berani mendukung. ”Pak Anjar, kan Bapak (Jendral Sholeh Susno Duadji, pen) sering menasihati, kita jangan lemah dan merasa gentar karena kita berada di jalan yang benar, kita menyelamatkan orang banyak walaupun orang banyak belum mengerti tentang kita.

Sahabatku Asy Syahid Anjar, sungguh benar firman Allah SWT,”“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa: 104). ”Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas, dan Allah pun bersamamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (Muhammad ayat 35)

Sahabatku Anjar,…selamat jalan, insya’ Allah kita bertemu di sorga-Nya…Billahi fii sabilil haq…(7 Zulqaidah 1431 H/Ba’da sholat Jumat, 15 Oktober 2010) ***

(Achmad Setiyaji/Penulis buku ”Mereka Menuduh Saya” dan ”Susno Duadji di Mata Sahabat Pers”)
Saya senang baca dan nulis, plus mengagumi segala ciptaan-Nya. Orang bilang, katanya, saya ini jurnalis (pernah jadi Redaktur Senior di HU Pikiran Rakyat). Ingin jalin persabahabatan sama semua orang dari Merauke hingga Maroko, dari Rancaekek hingga Rancanenek (kalo ada, ehm)
“Mengenang Asy Syahid Anjar Saputro (Ajudan Susno Duadji)”
OPINI Achmad Setiyaji|  18 Oktober 2010  |  15:58

You are here: Home Catatan Mengenang Asy Syahid Anjar Saputro”