Saya bukan koruptor - susnoduadji.com

susnoduadji.com

 
Saya Siap Mati Demi KebenaranItu harga mati. Saya kira amanah dari agama, bahwa saya sampai kapan pun, sesuatu yang benar harus saya katakan benar. Suatu yang salah adalah salah. Itu harga mati
Saya kira solusinya kita perbaiki moral melalui agama seluruh pimpinan negara ini. Sekarang ini kan orang tidak takut lagi sama Tuhan. Mereka tetap Sholat lima waktu tetapi korupsinya jalan terus. Kalau mereka ketemu daging babi muntah muntah, tetapi aspal dan pasir masuk perutPerbaikan Moral
Saya sekarang hanya bisa mengadu kepada Tuhan. Sampai saya memohon pada Allah, cabutlah nyawa saya jika saya melakukan seperti yang dituduhkan pada sayaSaya Hanya Bisa Mengadu Pada AllahLebih baik kita berpisah demi kebenaran, daripada kita bersatu di dalam kebohongan

Saya bukan koruptor

Addthis

Lelaki berbadan tambun itu menepati janjinya bertemu untuk wawancara. Kebetulan dia sedang berada di Jakarta. Dia pun menyempatkan diri berbincang hampir satu jam di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta Pusat.

Pria itu bukan orang baru. Dialah Komisaris Jenderal (Purn) Susno Duadji. Belakangan ini namanya kembali hangat menjadi perbincangan setelah akun facebooknya mengunggah gambar sedang di sawah sabil memegang pacul.

Bukan kali ini saja namanya menjadi perbincangan. Dulu, ketika perseteruan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan Kepolisian bermula, nama Susno menjadi isu sentral kala itu. Bahkan sampai ada sebutan cicak Vs buaya untuk pertama kalinya.

 

Perseteruan itu pun berbuntut panjang. Susno dicopot dari jabatannya. Dia pun dituding korupsi karena membongkar kasus-kasus besar. Dia harus merelakan kariernya tinggal selangkah lagi untuk menjadi Tribrata Satu (Kapolri).

Namun kepada merdeka.com, Mantan Kepala Badan Reserse Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia era Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri itu blak-blak soal perjalanan panjang hidupnya dulu.

"Saya ini beda, saya bukan koruptor. Koruptor itu musuh saya dan itu yang saya sikat," katanya saat berbincang dengan merdeka.com sebelum bertolak menuju Solo, Jawa Tengah, buat menemui cucunya, Kamis kemarin. 

Berikut petikan wawancara Susno Duadji kepada Didi Syafirdi, Wisnoe Murti, Arbi Sumandoyo dan juru kamera, Nuryandi Abdurohman. 


Apakah masih sering berhubungan dengan petinggi-petinggi Polri?

Sering, saya masih sering juga kumpul dengan Kompolnas. Saya sering juga dimintai pendapat, sering sekali. Bahkan kemarin wartawan juga meminta pendapat soal pergantian Kapolri, Tidak ada masalah dengan Polri, wong saya Polisi juga kok. Mungkin kalau dulu ada yang dekat dengan saya, dan sekarang pun masih dekat.

Makanya kemarin saya baca koran, kenapa wartawan ini potong ujungnya. Saya tahu, supaya ingat Susno, ingat profil Susno, tetapi jangan panjang-panjang. Susno Duaji, masih ingatkah Kabareskrim yang baru, mendekam di penjara divonis karena terbukti melakukan korupsi. Memang bagus karena diangkat, karena terbukti korupsi di Jawa Barat. Jadi selalu kasus itu diputar terus, tetapi tidak pernah dilihat apakah kasus korupsi itu adalah korupsi benar atau tidak. Susno dibegitukan. Kan tidak gampang seorang Kabareskrim di begitu kan oleh institusinya sendiri.

Bisa dibilang, kejadian itu baru pertama kali di tubuh Polri?

Tidak tahu lah...hahaha. Itu kan ada sesuatu yang sangat besar sekali. Itukan banyak sangkutannya yang tidak pernah diungkap, apakah ada kaitannya dengan kasus Century. Apakah ada sangkutannya dengan kasus mafia pajak. Apa ada sangkutannya dengan mafia hukum, jadi anak-anak muda yang baru lahir pasti bilang apa bedanya Susno dengan penjahat.

Saya ini beda, saya bukan koruptor. Saya ini beda, koruptor itu musuh saya dan itu yang saya sikat. Tetapi pengadilan begitu bunyinya. Pengadilan kita begitu lah sekarang, saya tidak perlu sebutkan. Wong kemarin ada hakim tertangkap juga kok.

Menurut Anda, kenapa bisa di begitukan?

Tanya rakyat, apa kata rakyat dan rakyat tahu semua kok. Ingatan mereka belum lepas. Buktinya apa, saya jadi Kabareskrim, kasus yang besar-besar saya sikat kan. Mungkin tidak mungkin kan, Bank Century, kemudian kasus mafia pajak, kasus mafia hukum, dan lain-lain. Dengan itu saya dikait-kaitkan dengan KPK, Cicak-Buaya, berkali-kali saya katakan dalam penyidikan pimpinan KPK saya tidak masuk, saya tidak ikut. Tetapi opini dibuat-buat itu saya, sehingga saya di bentur-benturkan, di unjuk rasa itu saya dan kemudian dicopot. Setelah dicopot dan masih ada yang belum puas juga kemudian saya dijebloskan juga. Tetapi tidak apa-apa lah, saya buka sedikit dan silakan telusuri.

Anda sakit hati?

Tidak lah..hahahahaha..Happy (senang) malah.

Ini menjadi menarik karena karir Anda dikorbankan hingga tidak sampai di puncak Kepolisian, apa yang membuat Anda berani mengungkap kasus-kasus besar itu?

Pertama begini, kalau mengorbankan itu kan seolah-olah milik saya. Wong itu karir, jabatan, pangkat dan rezeki itu kan semua milik Allah. Kira-kira kan akan menuju ke sana, Kalau saya katakan itu milik saya kan salah juga. Enggak ada yang dikorbankan. Kalau tidak jadi iya dan tidak ada yang dikorbankan.

Artinya begini, percuma kita menduduki sesuatu jabatan tetapi kita tidak pernah berbuat sesuatu. Bagi saya pangkat bintang tiga itu sudah terlalu tinggi, karena sekampung saya pun pangkat Kopral sudah paling hebat. Dulu almarhum nenek saya pernah bilang, waktu saya pulang kampung kebetulan saya sudah Kapten. 'Bagaimana Cung..cung (Panggilan cucu), apa pangkatnya sekarang, nenek doakan semoga cepat jadi Kopral ya' ..hahaha. Ngapain kalau jadi Kopral? Itu lihat tetangga sebelah, kalau ada yang ngutang atau apa gampang nagihnya. Di kampung saya kopral pun sudah ketinggian.

Nah kalau saya tidak berbuat sesuatu kan percuma, satu. Kedua saya katakan, Susno kan Polisi, hidup dari mana? Saya dagang dan keluarga saya pun dagang, anak-anak saya, istri saya, itu untuk mencukupi kebutuhan hidup saya. Nah kalau ada yang tanya sudah bisnis kan kok masih mau ikut bertani? Anak saya kan yang bisnis, dan itu memang hobi dan tidak ada kaitannya dengan apa-apa. Saya puas kalau sudah memperjuangkan nasib petani kecil dan mereka adalah saudara saya. Jadi tidak ada pikiran bagi saya. saya nothing to lose lah, jabatan buat apa bagi saya. Bintang tiga saja sudah kegedean.

Apakah benar dulu ada tekanan tinggi hingga ke keluarga Anda?

Ya kalau terusik jelas ada, karena mereka mafia-mafia kan gabungan. Orang kan, kalau sudah begitu ketemunya mulai dari buntut, hingga punggungnya, jelas lah. Namanya mafia, mafia itu kanonly one person kan. This is organization crime, pasti ada bosnya ada apa kan. Century itu kan dan sampai sekarang kasus itu juga belum tuntas.

Kabarnya Anda sampai harus melindungi anggota keluarga ke sesuatu tempat?

Itu sudah biasa lah. Itu masa lalu lah...hahahaha. Mari kita bicarakan masa depan. Rakyat sudah tahu dan pemerintahan saat ini juga sudah berganti. Pimpinan sudah ganti. Mari kita tatap masa depan, tatap kehidupan para petani-petani kita.

Jadi tidak sakit hati hingga sampai harus di penjara?

Tidak kok, anak-anak saya juga bangga. Anak saya bangga kok ketika saya di penjara karena mereka tahu, bapak saya bukan koruptor dan tidak merampok uang negara dan malah memberikan kepada negara. Berapa dari Century saya amankan, berapa dari mafia pajak gagal bermain. Memang saya tidak mengeluarkan uang sendiri dari kantong, tetapi akibat yang saya bongkar itu berapa? Jumlahnya triliunan gak?.

Kalau saya dicap oleh masyarakat sebagai koruptor, saya kira tidak. Buktinya masyarakat masih ingat saya kok. Dalam ingatan mereka, masih ingat 'Oh Susno Kabareskrim yang agak aneh lah'.

Sumber : merdeka

You are here: Home Hukum Saya bukan koruptor