Catatan Ramadhan Susno : Penyakit Pelit & Sok Gengsi Mematikan Ekonomi Kerakyatan - susnoduadji.com

susnoduadji.com

 

Catatan Ramadhan Susno : Penyakit Pelit & Sok Gengsi Mematikan Ekonomi Kerakyatan

Addthis

PALEMBANG – Banyak sifat yang menjadi penghalang berkembangnya ekonomi kerakyatan di suatu daerah, seperti yang dituturkan oleh ketua TP Sriwijaya, Susno Duadji,kepada Porta Berita Jeme Kite (LahatOnline.com dan SriwijayaOnline.com), Jum’at (10/6/2016). Menurutnya hemat adalah suatu sikap terpuji dalam penggunaan uang atau harta, lawan katanya adalah boros.

Pelit suatu sikap yang tidak terpuji dalam pemanfaatan uang atau harta, sinonim katanya kikir, lawan katanya murah hati atau dermawan. Pelit itu mirip penyakit kejiwaan kebanyakan diderita oleh kelompok orang berkecukupan adakalanya kelompok the have, tak terkecuali pejabat, baik laki maupun perempuan.

“Anehnya penderita penyakit pelit ini sering kali boros dalam kehidupannya. Dapat kita lihat dalam keseharian, seseorang apabila mau beli sesuatu di pasar tradisional, pedagang kaki lima, dan asongan menawarnya sampai si penjual mau pingsan.

 

Misal harga buah jeruk, mangga, atau pisang, kalau dijual di Super market Rp 50.00, di pedagang pasar tradisional, kaki lima, atau asongan dijual Rp 25.000, oleh si pelit masih ditawar lagi, akhirnya harga disepakati Rp 15.000,” cerita Susno

Pada hal menurut Susno, si pedagang tradisional, kaki lima, atau asongan yang tak lain adalah rakyat kecil nyaris tak ada keuntungan, adakalanya demi sesuap nasi dijual rugi! aneh bin ajaib apabila si pelit ini belanja di supermarket, untuk barang yang sama dengan harga yg lebih mahal beberapa kali lipat, dia beli begitu saja karena memang tidak ada tawar menawar.

“Artinya perbuatan boros si pelit ini, bisa menyengsarakan rakyat kecil, mematikan ekonomi kerakyatan, menambah kaya si pemodal besar, mungkin juga dapat dikatakan tak berperi kemanusiaan.

Tetapi banyak diantar kita tak menyadarinya, semoga kita tidak termasuk golongan si pelit, tapi masuk golongan orang yang hemat, suka berbelanja di pasar tradisional , kaki lima dan asongan sepanjang barang yang kita perlukan tersedia, hanya untuk hal yang terpaksa berbelanja di mall, supermarket, atau sejenisnya,” paparnya lagi.

“Kita mestinya mencintai dan menolong petani kecil, pedagang tradisional, pedagang kaki lima, lapak, warung dan asongan. Agar tujuan dari ekonomi kerakyatan itu dapat diwujudkan, tentu saja dengan dukungan semua pihak.

Terutama kepada kita yang kata-nya mendukung ekonomi kerakyat tersebut, semoga cita – cita ini bisa menjadi berkah dan pencerahan untuk kita semua. Selamat sahum ramadhan, semoga amal, ibadah dan dan sahum kita diterima Allah Swt, Aamiin Yra,” Pungkasnya.(*)

 

Sumber : lahatonline

You are here: Home Politik Catatan Ramadhan Susno : Penyakit Pelit & Sok Gengsi Mematikan Ekonomi Kerakyatan