Prihatin Pasang Surut Cengkih di Sumatera Selatan, Ini Cerita Susno - susnoduadji.com

susnoduadji.com

 

Prihatin Pasang Surut Cengkih di Sumatera Selatan, Ini Cerita Susno

Addthis

PAGAR ALAM – Berubah, perubahan, hijrah pola pikir, hijrah dari kebiasaan, ternyata memang benar perubahan/berubah itu penting untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi, ternyata benar juga siapa yang tidak mau berubah maka dia akan menjadi korban dari perubahan itu sendiri.

Adagium ini ternyata tidak terkecuali untuk dunia pertanian, khususnya bagi para petani. Memang sudah menjadi label bahwa perubahan di kalangan petani khususnya petani kecil tradisional sulit sekali dilakukan.

 

Sebagai contoh, Jenis tanaman padi dari padi umur 6 bulan ke padi umur 4 bulan atau kurang, merubah dari jenis tanaman kopi ke tanaman keras lain seperti cengkih, kelapa , dan lain – lain, Merubah pola tanaman dari satu jenis tanaman misal kopi dicampur dengan lada juga sulit sekali dilakukan walaupun harga hasil bumi yang ditanamam merosot tajam.

Menyikapi kondisi ini, Ketua TP Sriwijaya pun ikut bicara, kepada Group Lahat Katakita Mediatama (Lahatonline.com dan Sriwijayaonline.com), Jum’at (17/6) mengungkapkan, Petani akan mudah dan mau melakukan perubahan apabila ada contoh dan tauladan yang telah menunjukan keberhasilan.

“Demikian pada tahun 70-an cengkih lagi bombing, harganya bagus, permintaan pasar luar biasa, sehingga Indonesia untuk memenuhi kebutuhan cengkih di dalam negeri melakukan impor cengkih dari Zanzibar.

Mulailah di era itu di beberapa propinsi di Indonesia banyak yang menanam cengkih, termasuk di Sumatera Selatan. Karena melihat dan mengetahui keberhasilan petani cengkih maka banyak sekali petani di Sumsel yg menanam cengkih,” ungkap Susno

Selanjutnya dia juga menceritakan, Ketika itu saya masih duduk di bangku kelas 3 SMA ikut membuat kebun dan menanam pohon cengkih yang saat itu bibitnya banyak dijual, pohon cengkih saya tanam bersama tanaman palawija, jagung, kacang, dan ada juga cabi, tomat, dan tidak ketinggalan singkong dan pisang.

“Lumayan hasil tanaman tumpang sari tersebut untuk nambah biaya sekolah, beli buku, dan beberapa lembar baju, maklum saat itu sudah remaja SMA lagi senang bergaya, tapi gayanya tetap model anak kampung , loh!

Di kampung banyak orang kaya baru kelas kampung, karena harga cengkih yg sangat menguntungkan petani. Masa keemasan cengkih tidak berlangsung lama karena ditahun 1994 (?) diberlakukan TATA NIAGAH CENGKIH , di mana semua cengkih harus dijual kepada KUD yg di belakangnya ada konglomerat,” lanjutnya

“Sayang dengan adanya Tata Niaga Cengkih yang niat dan tujuan awalnya baik, tapi dalam pelaksanaannya babaliut, karena sistem tata niaga diawaki oleh manusia yg rakus, sudah dapat diduga harga cengkih anjlok, hampir tidak ada harganya, harga di luar KUD cukup tinggi, tapi siapa yang berani menjual cengkih di luar KUD pasti ditangkap aparat, maklumlah era itu, gampang sekali orang ditangkap!

Petani cengkih, rakyat lagi yang jadi korban, dan bersamaan saat itu pohon cengkih terserang penyakit ulat, pohon cengkih bagian dalam diserang ulat. Sehingga banyak pohon cengkih yang mati. Petani frustasi tidak mau mengobati pohon cengkih yang terserang penyakit, bahkan menebangi pohon cengkih, termasuk pohon cengkih yang sehat, diganti dengan tanaman kopi, karet atau tanaman lain,” katanya lagi.

Tidak terkecuali pohon cengkih yang mereka tanam, dibabat juga , hanya tersisa beberapa pohon saja, mengetahui harga cengkih cukup lumayan, mereka menyesal juga kenapa pohon cengkih di tebang , ya ini bisa jadi pengalaman.

“Beberapa tahun kemudian setelah pohon cengkih ditebang, Tata Niaga Cengkih dihapuskan, harga komuditas cengkih kembali naik tajam sampai lebih dari Rp 50.000 per kilo gram, saat itu harga kopi berkisar Rp 5.000 per kilo gram, tapi sayang komuditas cengkih tertinggal sangat sedikit .

Bahkan pohonnya pun sudah sulit ditemukan, kalau masih ada itu hanya pohon cengkih yang bernasib baik yang selamat dari ulat dan selamat dari gergaji atau pisau petani yang menebang nya. Saat ini harga cengkih pada kisaran Rp 80.000 ribu/kg,” jelasnya lagi.

Pengalaman sedih beralih jenis tanaman ini membuat petani sulit untuk berubah dari jenis tanaman tradisional ke jenis tanaman baru. Namun pengalaman pahit ini juga yang mendorong petani lebih mudah untuk diajak melakukan diversifikasi tanaman.

Menurut Susno, misal satu ladang yang luasnya 1 Ha tidak hanya ditanami satu jenis tanaman misal kopi, tapi diselingi dengan tanaman lain misal lada yang tidak mengganggu luas lahan, kemudian pada bagian lain lahan ditanami tanaman palawija, sayuran, dan lain – lain.

Kemudian menurutnya, inilah cara petani survive dari jatuhannya beberapa komuditas, seperti saat ini, harga gabah tidak membawa keuntungan, harga karet anjlok tajam, harga kopi tidak memuaskan, dan lain sebagainya.

“Melihat sejarah gelap cengkih ini, kiranya bisa diambil hikmahnya baik oleh petani, pemerintah, maupun pihak lain yang peduli dengan nasib petani. Dengan adanya harga komoditas pertanian yang tidak menentu menjadikan petani lebih tahan uji, terlatih survive, diversifikasi jenis tanaman itu suatu keharusan, pemanfaatan lahan harus maksimal, tanaman palawija, tumpang sari itu perlu untuk nopang kebutuhan harian rumah tangga.

Jangan sampai terjadi pemusnahan tanaman, yang lebih penting lagi bagi semua pihak penentu kebijakan dan pengambil keputusan, bahwa tata niaga komuditas apapun yang mengarah pada sistem monopoli hasilnya pasti menyengsarakan petani , perlu penyuluhan agar petani mau diversifikasi tanaman,” pungkasnya.(*)

Sumber : lahatonline

You are here: Home Sosial Prihatin Pasang Surut Cengkih di Sumatera Selatan, Ini Cerita Susno