Susno Duadji anggap bertani karet sulit dapat untung - susnoduadji.com

susnoduadji.com

 

Susno Duadji anggap bertani karet sulit dapat untung

Addthis

Semenjak menjadi petani setelah pensiun dari anggota polisi, Komjen Pol (Purn) Susno Duadji kerap menyoroti sejumlah persoalan masyarakat, salah satunya harga karet yang makin anjlok. Pemerintah bersama negara internasional sebaiknya lebih fokus lagi membahas masalah karet sehingga harganya kembali bergairah.

Mantan Kabareskrim Polri ini menuturkan, petani karet saat ini sudah malas pergi ke kebun untuk menderes atau menyadap karet, apalagi merawatnya. Alhasil, ribuan hektar kebun karet kini terlantar akibat anjloknya harga karet pada posisi yang nyaris tidak ada harganya yang berkisar Rp 5.000 per kilogram.

"Karet sekarang bisa dikatakan tidak ada harganya. Hanya Rp 5.000 per kg, kadang murah dari itu, separuh dari harga beras," ungkap Susno kepada merdeka.com, Selasa (21/6).

Dia menceritakan, saat harga karet di atas Rp 20.000 per kg beberapa tahun silam, jauh sebelum matahari terbit petani sudah pergi ke kebun menggunakan sepeda motor dengan membawa bekal sebungkus rokok kretek bermerek. Hal itu menandakan, petani saat itu menjadi sejahtera karena harga karet menggairahkan.

"Saya ingat pengalaman sekian puluh tahun lalu, kalau sedang libur sekolah ikut ke kebun untuk menderes karet dan hasilnya bisa dijual untuk beli buku, uang sekolah, beli baju, sesekali untuk nonton bioskop film Jepang atau film Indonesia yang dibintangi Sophan Sofyan dan Widyawati judulnya yang paling saya ingat Romi dan Yuli. Waktu itu karet memang bikin masyarakat sejahtera," tuturnya.

Menurut dia, berdasarkan data statistik Ditjen Perkebunan, posisi Indonesia dalam perkebunan karet dunia berada pada peringkat kedua. Tahun 2015, Indonesia memproduksi karet 3.231.825 ton, berada di bawah Thailand 3.979.000 ton. Namun Indonesia masih berada di atas Vietnam dan Malaysia.

Sementara Provinsi Sumsel merupakan daerah penghasil karet nomor satu di Indonesia. Tahun lalu, Sumsel memproduksi 922.951 ton. Sementara karet rakyat di Sumsel memproduksi 870.194 ton dari luas lahan 789.814 hektar yang diusahakan oleh 518.455 kepala keluarga.

"Artinya, jika satu keluarga petani karet di Sumsel beranggotakan empat orang, maka hampir 2,5 juta orang penduduk Sumsel, kehidupannya tergantung dengan karet. Belum lagi kalau ditambah tenaga kerja yang terkait dengan perkaretan, di situ ada pedagang, transportasi, buruh pabrik karet, bisa tiga juta orang," terangnya.

Karena komuditas karet adalah salah satu komuditas perdagangan internasional, sambung Susno, maka harus dilakukan perundingan terutama negara penghasil karet melalui forum MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau melalui forum yang lebih special lagi seperti International Tripartite Rubber Council (ITRC) untuk membicarakan tentang perkaretan agar mendapatkan solusi yang tepat mengatasi anjloknya harga karet.

"Pemerintah harus serius. Betapa sejahteranya jika harga karet tinggi, betapa tingginya perputaran uang terkait karet dan juga income negara dari pajak dan bea yang dipungut. Pemerintah mendapatkan penghasilan yang lumayan besar, itu jika harga karet tinggi," tandasnya.

You are here: Home Sosial Susno Duadji anggap bertani karet sulit dapat untung