Pasar Induk Resep Menyelamatkan Produk Rakyat - susnoduadji.com

susnoduadji.com

 

Pasar Induk Resep Menyelamatkan Produk Rakyat

Addthis

PALEMBANG – Problem berkepanjangan yang menahun seperti tak ada jalan keluar adalah murahnya harga produksi rakyat (petani, peternak, nelayan, dan pengrajin), disatu pihak tidak tercukupinya kebutuhan pasar akan produk pertanian, peternakan dan perikanan.

Namun harga barang produksi petani, peternak, nelayan dan pengrajin di supermarket, di mall, di pasar raya melambung sangat tinggi bisa menjadi 500 % dari harga yang mereka dapat.

Hal ini menjadi perhatian ketua TP Sriwijaya Susno Duadji, kepada group Lahat Katakita Mediatama (Lahatonline.com dan Sriwijayaonline.com), Kamis (21/7).

“Sebagai contoh, beras di supermarket harganya mencapai Rp 12.500 sampai Rp 15.000 per Kg, di pasar biasa mencapai Rp 8.000 hingga 9.000 ribu per Kg, sementara harga gabah dibeli dari petani berada pada kisaran harga Rp 3.000 sampai 3.500 per kg.

Harga sayur Sawi, Kubis, buah-buahan juga melambung menjadi 2 sampai 3 kali lipat dari harga beli pada rakyat kalau sudah berada di Supermarket, mall, pasar raya, dan lain – lain. Harga ikan tangkapan nelayan sangat murah, tetapi kalau sudah dipajang di supermarket, restoran, hotel, pasar raya harganya melambung menjadi berkali-kali lipat dan tidak bisa ditawar.

Harga kerajinan rakyat demikian juga, dihargai sangat murah, namun apabila sudah berada di mall, supermarket, pasar raya harganya melambung berkali-kali lipat,” ungkapnya.

 

Kemudian dia menjelaskan, Kondisi demikian mata rantai pasar yang tidak sehat apabila tidak ditata dengan aturan yang mengikat dan tidak dicarikan jalan keluar sudah pasti akan sangat merugikan rakyat sebagai produsen.

Sehingga tidak aneh kalau rakyat tidak mau lagi bertani, tidak mau menanam buah-buahan, tidak mau menanam palawija, tidak mau memelihara ternak, tidak mau menjadi nelayan, tidak mau lagi menghasilkan karya seni berupa kerajinan karena ongkos produksi tidak sebanding dengan hasil yang didapat, adakalanya merugi.

“Sudah menjadi sifat kapitalis, ingin untung semaksimal mungkin dengan biaya yang seminim mungkin, tapi mereka tidak sadar bahwa prilaku yang menghisap darah dan keringat ini akan mematikan sentra produksi dan pada giliran nya mereka akan tumbang juga karena berkurangnya barang dan jasa yang akan dipasarkan.

Menghadapi hal demikian, dimana rakyat kecil , petani, nelayan, peternak, pengrajin , dan pedagang kaki lima , pedagang pasar tradisional selalu pada pihak yang dirugikan, menjadi pihak yang lemah dan tidak mempunyai posisi tawar padahal mereka merupakan jumlah yang besar, sungguh memelrihatinkan,” ujarnya.

TP Sriwijaya sebagai organisasi kemasyarakatan selalu menyuarakan untuk memperkuat posisi rakyat , memperkuat basis ekonomi kerakyatan, kalau rakyat sejahterah maka negara akan kuat, konglomerat pun akan kuat, tentunya konglomerat yang bermoral.

Jadi yang dibangun lebih utama adalah ekonomi kerakyatan, bukan memberi posisi kuat pada konglomerat dengan baju investor dengan alasan pembenar bahwa Pemerintah/Pemda tidak punya uang, atau berbaju modernisasi selogan penataan.

Pasar dapat diartikan sebagai tempat bertemu pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi perdagangan membeli/menjual barang dan jasa (pengertian pasar secara phisik). Adanya pasar akan mempermudah semua pihak untuk mendapatkan informasi tentang barang yang akan dibeli / dijual termasuk harga pasar.

“Adanya pasar akan menyederhanakan rantai/mekanisme jual beli, sehingga akan mengurangi ongkos jual beli, kondisi ini akan menguntungkan semua pihak baik penjual maupun pembeli. Dengan pendeknya rantai/mekanisme jual beli karena adanya pasar maka peranan tengkulak akan berkurang.Pasar yang ideal adalah pasar induk , misal pasar induk beras, pasar induk kerajinan, pasar induk buah, pasar induk karet, pasar induk kopi, pasar induk ternak sapi/kerbau/kambing, dan lain – lain,” kata Susno.

Supaya pasar induk hidup dan disenangi oleh penjual/pembeli dan pengunjung, maka pasar induk harus memiliki lokasinya luas, mudah diakses, bersih, aman, tidak ada pungli, fasilitas air, listrik, parkir, tersedia.

“Sedangkan manfaat pasar induk adalah memudahkan penjual/pembeli berintraksi dan bertransaksi, memperpendek mekanisme pasar, rakyat selaku produsen tau informasi harga sehigga tidak dibohongi.

Peran tengkulak menjadi minimal, memudahkan pemerintah melakukan pembinaan, meningkatkan Penerimaan Asli Daerah, pemungutan pajak menjadi lebih efektif, mengembangkan pembangunan wilayah, menambah lapangan kerja, akan menjadi objek wisata, menjadi pusat informasi pasar.

Sangat ideal kalau semua Kabupaten dan kota mempunyai pasar induk untuk setiap produk unggulan kabupaten dan/atau kota tersebut,” paparnya.

Belajar dari kegagalan pembangunan pasar yang terbengkalai di beberapa kabupaten/kota yang perencanaannya kurang matang, maka sebelum dibangun harus benar-benar dilakukan study dan riset sehingga pasar induk yang dibangun digandrungi oleh penjual, pembeli, dan pengunjung.

“Sudah waktunya kita membangun pasar induk sesuai dengan contoh yang ada di beberapa negara, suasana yang bersih, aman, luas, mudah diakses. Adanya fasilitas yang memadai seperti air, listrik, telpOn, bank, toilet dan kamar mandi bersih.

Restoran/warung yang bersih harga terjangkau, dibangun sedemikian rupa sehingga menjadi objek wisata. Kita ikut senang dan bangga mendengar informasi bahwa Agustus nanti Kabupaten Cirebon sebagai sentra penghasil beras akan launcing Pasar Induk Beras yang refresentatif, demikian juga Kabupaten Bandung yang mempunyai Pasar Induk yang cukup banyak untuk semua produk Agronya,” bebernya.

“Mari kita merubah pikiran kita dari memanjakan konglomerat membangun mall dan supermarket dan adakalanya menggusur cagar budaya dan menyingkirkan pedagang tradisional, menjadi pola pikir dan melakukan membangun pasar induk yang memihak dan mensejahterahkan rakyat,” Pungkasnya.(Susno)

Sumber : lahatonline

You are here: Home Sosial Pasar Induk Resep Menyelamatkan Produk Rakyat