Padang Rumput Luas, Kok Import Daging Sapi - susnoduadji.com

susnoduadji.com

 

Padang Rumput Luas, Kok Import Daging Sapi

Addthis

PALEMBANG – Negara kita sungguh hebat sepanjang tahun iklimnya relatif sama, tidak seperti negara dibelahan Selatan dan belahan Utara Khatulistiwa yang mempunyai 4 macam iklim, kita tak mengenal musim salju di mana semua tumbuhan gugur daunnya dan rerumputan seakan sirna dari muka bumi, sehingga binatang termasuk khewan ternak seperti sapi dan domba sulit mencari rerumputan sebagai makanan, dimana para petani peternak harus menyiapkan stok makanan sedemikian banyak untuk hewan ternaknya, kita negara agraris terbentang digaris Khatulistiwa, negara kita mempunyai padang rumput yang sangat luas, dan sorga bagi khewan ternak.

Tapi sungguh aneh setiap tahun negeri ini kekurangan daging sapi terlebih disaat menjelang hari raya keagamaan harga daging sapi selangit, tembus di atas rp 120 ribu / kg, dan itu pun daging susah ditemukan , dan tentunya sampai Presiden harus turun tangan dan bersuara lantang memerintahkan agar harga daging sapi pada posisi kisaran Rp 80 ribu/kg, tentunya menteri dan pejabat terkait ikut cawe-cawe, termasuk politisi, dan menjadi menu sedap pemberitaan berbagai media.

Menyikapi fenomena ini, Ketua TP Sriwijaya Susno Duadji pun meresponnya. Kepada Group Lahat Katakita Mediatama (Lahatonline.com danSriwijayaonline.com), Selasa (19/7), dia menyatakan, Investor Daily tanggal 9 September 2015 memberitakan, bahwa Indonesia mengalami defisit daging sapi sebanyak 237,89 ribu ton daging, hal itu setara dengan 1,39 juta ekor sapi hidup.

 

“Hal ini ibarat penyakit akut menahun yang terjadi setiap tahun seperti lingkaran jin dan setan, yang tak pernah selesai – selesai, tidak ada jalan keluar, atau apakah kondisi seperti ini dibiarkan dan dipelihara? Kita tak tahu jawabnya pasti, mungkin walau diantara kita tidak memerlukan jawaban, karena sudah terjawab.

Kita punya padang rumput luas, lahan luas, iklim sepanjang tahun relatif sama, orang pinter di bidang peternakan banyak dan dokter hewan juga banyak. Kenapa masih ada yg berpikir bahwa untuk mengatasi kekurangan daging sapi adalah dengan membuka kran import bukan dengan meningkatkan produksi dan meningkatkan kwalitas ternak sapi di dalam negeri,” ujarnya.

Selanjutnya dia juga mengatakan, lahan luas, padang rumput luas, iklim sepanjang tahun relatif sama, tenaga ahli banyak, pasar terbuka luas! Seandainya petani peternak kemampuannya kurang, jalan keluarnya adalah diberi penyuluhan, bimbingan.

“Seandainya daging sapi dalam negeri rasa nya kurang empuk, kurang mak nyus, ya perbaiki kwalitasnya, bukankah pakar ternak dan dokter hewan kita juga banyak yang pinter – pinter dan bahkan sudah jadi profesor, sudah sekolah di manca negara.

Bayangkan kalau harga satu ekor sapi peternak yang gemuk dihargai Rp 15 hingga 20 juta, dan tiap petani peternak bisa memelihara 20 ekor sapi, betapa makmurnya petani kita, sehingga rakyat tidak akan teriak dan tidak akan melarat, tidak akan urbanisasi karena harga komoditas pertanian seperti karet, kopi, gabah, dan – lain merosot,” ungkapnya.

Kemudian dia menjelaskan, kalau produksi sapi lokal kita meningkat dan dapat memenuhi seluruh kebutuhan dalam negeri, maka dijamin harga daging sapi di Indonesia tidak akan naik tajam, insya Allah harga daging sapi akan setara dengan harga daging sapi di negara lainnya, harga akan imbang dengan Singapore dan Malaysia sekitar Rp 70 Ribu/kg, petani peternak makmur, gizi hewani rakyat terpenuhi, maka rakyat sehat, dan kuat, serta cerdas, tentunya bangsa kita akan menjadi bangsa yang pinter-pinter.

“Menurut Investor Daily hitung – hitungan angka tersebut dengan asumsi bahwa keperluan daging perkapita penduduk Indonesia adalah 2,6 Kg /orang/tahun, dengan asumsi jumlah penduduk 255.461.700 jiwa , maka didapat angka kebutuhan daging sapi per tahun sebanyak 653.982 Ton, setara 3.843.787 sapi hidup, sedangkan kemampuan produksi sapi lokal hanya 2.445.557 sapi hidup.

Terdapat kekurangan 1,4 juta lebih sapi hidup, perhitungan itu didasarkan pada tingkat konsumsi daging sapi tahun ini sebesar 2,6 kilogram (kg) per kapita per tahun dengan jumlah penduduk 255.461.700 jiwa. Artinya, kebutuhan daging sapi tahun ini mencapai 653.982 ton atau setara 3.843.787 sapi hidup, namun kemampuan lokal hanya 2.445.577 sapi hidup,” jelasnya.

Angka tersebut mestinya diartikan bukan sebagai kesempatan emas untuk impor sapi/daging sapi, melainkan kesempatan emas untuk menggenjot produksi sapi lokal, kesempatan emas untuk memakmurkan petani peternak sapi, kesempatan emas untuk riset dan meningkatkan kwalitas sapi lokal bila perlu melebih kwalitas sapi Australi dan New Zailand, kesempatan emas untuk menghemat devisa yang terbuang untuk import sapi.

“Kita yakin kalau persepsi yang berwenang dan persepsi para elit sudah sama, bahwa malu menjadi pengimpor, malu negeri kita dijadikan pasar, mari kita hijrah kita berpikir dan berusaha agar kelak negeri kita dari pengimport sapi menjadi negeri pengekspor/pemasok pasar sapi dunia dengan kwalitas nomor wahid.

Dan semoga juga lahan tidak diobral kepada konglomerat untuk perkebunan yang sangat luas , milik satu orang, fakta sekarang lahan di Sumatera, Kalimantan dan yang lain, banyak yang sudah jatuh menjadi hak guna perkebunan (HPH) para konglomerat,” tandasnya.(Susno)

Sumber : lahatonline

 

You are here: Home Sosial Padang Rumput Luas, Kok Import Daging Sapi